Peningkatan Keterampilan Kerja dan Penguatan Pendidikan Orang Dewasa
Struktur penduduk Indonesia terus mengalami perubahan dan saat ini sudah mengalami masa dimana proporsi penduduk usia produktif (15-64) sudah lebih besar dibandingkan penduduk usia nonproduktif (0-14 tahun dan 65 tahun keatas). Fenomena yang disebut bonus demografi ini diperkirakan akan terus berlangsung sampai dengan tahun 2031. Hal tersebut memberikan keuntungan untuk peningkatan kesejahteraan rakyat Indonesia.
Tetapi jumlah pengangguran setiap tahun terus meningkat, dikarenakan jumlah lapangan kerja tidak sebanding dengan angkatan kerja, dan rendahnya kualitas tenaga kerja. Rendahnya kualitas tenaga kerja, yang antara lain diukur dengan jenjang pendidikan tertinggi yang ditamatkan. Dengan pendidikan yang masih rendah dan keahlian/keterampilan yang tidak memadai, para lulusan sekolah menengah dan perguruan tinggi sekalipun hanya bisa masuk ke lapangan pekerjaan yang tidak menuntut keahlian/keterampilan tinggi seperti pertanian dan pabrik. Pada tahun 2010, masih lebih dari 50 persen lulusan SMA/MA/SMK bekerja di unskilled jobs dan lebih dari 30 persen di semi-skilled jobs. Untuk lulusan pendidikan tinggi, masih ada sekitar 10 persen dan 40 persen, secara berturut-turut, yang bekerja di unskilled dan semi-skilled jobs. Pada tahun 2012, dari sekitar 62 juta penduduk usia 15-29 tahun yang sudah tidak bersekolah, ada sekitar 30 persennya yang hanya lulus SD/MI atau kurang. Selain itu, sampai saat ini masih banyak anak-anak yang putus sekolah dan tidak menyelesaikan pendidikan sembilan tahun dan juga banyak lulusan SMP/MTs/sederajat yang tidak melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.
Keadaan tersebut memberikan
dampak buruk terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia, yang sangat membutuhkan
tenaga kerja yang berkualitas dan bekerja sesuai dengan tingkat kompetensinya. Peningkatan
kualitas tenaga kerja sangat dibutuhkan terutama karena tuntutan standar
kualitas produksi yang semakin tinggi, lingkungan kerja yang semakin
kompetitif, dan cepatnya perkembangan teknologi baik yang berasal dari luar
negeri maupun yang dikembangkan di dalam negeri.
Untuk meningkatkan keterampilan
kerja, perusahaan perlu memberikan pelatihan bagi karyawannya. Tetapi secara nyata
tidak banyak perusahaan memberikan pelatihan. Kualitas lembaga pelatihan
keterampilan di Indonesia juga masih rendah. Sebagian besar balai latihan kerja
(BLK) tidak berkualitas dilihat dari ketersediaan fasilitas, peralatan, dan
sumber daya manusia. Sangat sedikit pelatih di BLK yang lulus perguruan tinggi.
Pendidikan non-formal berperan penting dalam penyediaan pelatihan keterampilan
kerja melalui lembaga kursus, namun kualitasnya dinilai jauh lebih rendah
dibanding lembaga pendidikan formal. Berbagai layanan pendidikan dan pelatihan,
baik yang dilakukan oleh pemerintah maupun swasta, dinilai kurang mendukung
kebutuhan pembangunan daerah. Selain itu, struktur penduduk Indonesia juga akan
semakin menua dengan semakin meningkatnya umur harapan hidup dan derajat
kesehatan penduduk. Proporsi penduduk usia 60 tahun keatas diproyeksikan
meningkat dari sekitar 7,6 persen pada tahun 2010 menjadi 15,8 persen pada
tahun 2035. Dengan berbagai perubahan yang terjadi seperti perkembangan teknologi
dan sosial budaya, penduduk semakin sering mengalami transisi dalam hidup mereka.
Dengan demikian
pendidikan bagi orang dewasa semakin menjadi tuntutan untuk membantu mereka
mendapatkan pengetahuan dan keterampilan baik teknis maupun profesional yang
dibutuhkan dalam meningkatkan kualitas hidup sesuai dengan perubahan lingkungan
yang terjadi.
No comments:
Post a Comment